Pages

Rabu, 24 April 2013

HARAPAN ORANG TUA MENJADI PENDORONG ATAU PENGHALANG BAGI ANAK ?



Renyep Proborini  


Hal yang lazim bila orang tua memiliki berbagai harapan terhadap anaknya. Harapan ini berkaitan dengan kondisi fisik, kecerdasan, prestasi sekolah dan berbagai hal. Misalnya, orang tua ingin anaknya pintar, juara, cantik/cakep, semangat, sehat. Untuk mewujudkan harapannya, orang tua akan melakukan berbagai usaha. Orang tua yang menginginkan anaknya cantik/cakep akan berusaha mendandani anak dengan baju dan berbagai asesoris.
Keinginan ini kemudian dapat berkembang menjadi kebutuhan untuk memperlihatkan kecantikan anak pada orang luas, dengan memasukkan anak-anak ke sekolah modeling dan rajin mengikut sertakan anak dalam berbagai ajang lomba modeling. Lain lagi apabila orang tua menginginkan anak berprestasi secara akademik. 
Upaya yang dilakukan mulai dari menyuruh anak belajar, memasukkan anak ke berbagai les, mendaftarkan anak untuk lomba, dan menyemangati anak. Masih banyak lagi berbagai bidang yang menjadi harapan orang tua untuk mengembangkan anaknya. Berkaitan dengan masalah pengembangan ini maka isu motivasi menjadi hal yang paling penting. Orang tua berharap agar anak dapat memiliki motivasi sendiri sehingga tidak terlalu repot untuk mensuport. Yang menjadi pertanyaan adalah ketika harapan orang tua diwujudkan melalui berbagai upaya untuk memotivasi maka apakah upaya tersebut menjadi produktif atau justru kontra produktif. Berbagai kasus justru menunjukkan bahwa anak bukan semakin termotivasi namun semakin bertambah stress ketika menghadapi upaya orang tua untuk memotivasi yang berubah menjadi “tekanan &beban” dari orang tua. Berikut ini beberapa kondisi yang perlu dicermati untuk membedakan antara memotivasi dan membebani anak.



  • ·         Pujian


Memuji adalah cara efektif untuk menunjukkan pada anak tentang perilaku yang dikehendaki. Kata-kata seperti “wah, hebat! pinter ! rajinnya anakku! Atau sekedar acungan jempol merupakan contoh pujian yang dapat diterapkan. Pujian dapat diberikan bila anak belum memiliki motivasi yang stabil, namun bila terlihat anak mulai dapat melakukan sendiri maka pujian dapat dikurangi sedikit demi sedikit, hingga akhirnya pujian sebagai rasa persetujuan tersebut dapat diwujudkan dalam perilaku kita secara keseluruhan yang memberikan penghargaan terhadap anak. Ada pula orang tua yang maksudnya memuji anak dengan menyatakan “naah, gitu dong! Itu baru anak mama!” Di balik pujian ini sebenarnya ada makna yang tersirat bahwa orang tua menetapkan target tertentu pada anaknya. Jika target itu tidak tercapai maka “bukan anak mama”. Artinya, orang tua secara halus menolak anak jika anak  tidak mencapai standard tertentu. Di bawah sadarnya anak akan merasa bersalah karena tidak mencapai standard tersebut. Perasaan bersalah ini dapat melemahkan harga diri anak 

·         Membandingkan


Untuk memotivasi anak, banyak orang tua yang memberikan contoh anak-anak lain yang telah mampu berprestasi. Bahan pembanding itu bisa jadi saudara sekandung si anak, anak tetangga, anak teman/saudara, atau orang tua ketika masih kecil dulu. Kalimat yang diucapkan misalnya,”waktu kecil dulu, papa sudah bisa melakukannya” lihat si itu, dia bisa, kenapa kamu ga bisa ?! Badan kamu kan lebih gede dari si itu, dia yang lebih kecil bisa, kenapa kamu ga bisa? Contoh itu kakakmu, rajin, ga usah disuruh-suruh sudah mengerjakan” kamu ni malas amat sih, ga seperti kakakmu!.” Upaya membandingkan berarti menempatkan anak pada kutub yang berbeda dari tokoh bandingan. Orang tua cenderung membandingkan ketika anaknya tidak mampu, berarti anak di tempatkan dalam posisi tidak mampu sedangkan tokoh pembanding berada pada kutub yang berlawanan yaitu mampu melakukan. Apabila anak memiliki potensi yang sama atau tidak terlalu jauh dengan tokoh bandingan maka anak cukup mampu untuk mengejarnya. Anak hanya perlu berusaha sedikit agar sama dengan tokoh bandingan. Masalah timbul apabila potensi anak berada jauh di bawah tokoh bandingan. Anak sulit untuk menyamainya sehingga anak menjadi setengah frustrasi.

Dampak lain adalah anak merasa sudah ditempatkan pada posisi miring sehingga menimbulkan antipati. Anak menjadi marah kepada orang tua dan juga kepada tokoh bandingan. Persaingan antara saudara kandung “sibling rivalry” yang tidak sehat seringkali dipicu oleh sikap orang tua yang membanding-bandingkan anaknya.

Membandingkan juga akan menggiring anak untuk mengorientasikan diri agar  berperilaku seperti anak  lain. Anak merasa tertuntut untuk seperti orang lain. Kenapa? Karena orang lain lebih baik dan si anak kurang/tidak baik. Anak merasa tidak bangga dengan dirinya, padahal untuk mengembangkan kepercayaan diri anak  maka perasaan istimewa perlu dimiliki oleh anak. Pembandingan hanya akan memunculkan perasaan tidak berharga dan tertekan pada anak. Orang tua akan lebih bijak bila membanding anak dengan diri anak sendiri, yaitu ketika anak mampu melakukan tetapi kurang konsisten. Misalnya, “kemarin kamu kan bisa, mama yakin sekarangpun kamu juga pasti bisa”

·         Menetapkan target


Target secara eksplisit dinyatakan oleh orang tua kepada anak, misalnya, “nanti kamu jadi juara ya”, “kenapa nilaimu hanya 70, kenapa tidak 80 atau 100?”. Penetapan target semacam ini cukup aman apabila kemampuan anak mendekati target karena anak dapat melakukan upaya sewajarnya untuk mencapainya. Namun bila target tersebut terlampau jauh bagi anak maka kegamangan lah yang pada akhirnya dirasakan oleh anak. Jadi, orang tua perlu cermat dalam menilai kemampuan anak, termasuk masalah emosinya, sehingga dapat menetapkan target yang realistis bagi anak. Masalah emosi ini misalnya apakah anak gigih atau mudah menyerah, sensitive atau sewajarnya, dsb. Bisa jadi anak cukup mampu untuk melakukan satu aktivitas, tetapi karena anak mudah berputus asa maka target tidak dapat dicapai. Untuk hal semacam ini maka orang tua perlu menetapkan target yang memang mampu dicapai oleh anak


·         Les

Seiring dengan kebutuhan orang tua untuk mengembangkan anaknya maka semakin marak pula jasa untuk mengembangkan anak di berbagai bidang. Jenis-jenis les atau pembelajaran tambahan, misalnya  pelajaran, music, menari/dance, melukis, olah raga, robotic, presenter, dsb. Orang tua rela menyisihkan banyak dana untuk mengikut sertakan anaknya dalam berbagai les. Les yang seharusnya hanya tambahan untuk melengkapi pelajaran di sekolah, berubah menjadi utama karena jumlah waktu yang cukup panjang. Banyak anak remaja yang berangkat pagi pulang malam setiap hari karena sepulang sekolah ia langsung les. Pada kasus di tingkat prasekolah di kota besar, cukup banyak anak TK yang les hampir setiap hari.  Sebagian orang tua menyatakan bahwa mereka tidak mau bila anaknya hanya bermain saja. Orang tua mau agar anaknya belajar. Dan persepsi tentang belajar ini yang kemudian secara keliru dipahami oleh banyak orang tua sebagai aktivitas baca-tulis-hitung saja dan sebagian lain menambahkan aktivitas seni dapat ditekuni sebagai belajar. Padahal bila mengikuti perkembangan psikologis anak, maka kebutuhan anak prasekolah adalah untuk mengembangkan motorik dan sensorinya melalui kegiatan bermaian. Aktivitas motorik ini pada akhirnya akan mengembangkan kemampuan kognitif.


Sekolah dan les adalah kegiatan terstruktur di mana sudah ada materi, waktu dan tempat yang telah ditetapkan. Aktivitasnya sudah dirancang dan anak adalah pelaksananya dalam program tersebut. Dengan program yang terstruktur ini maka anak akan mengenal aturan dan target sehingga sikap dan perilaku anak akan lebih teratur dan termotivasi untuk mencapai target. Namun yang perlu diperhatikan adalah anak juga memerlukan kegiatan yang tidak terstruktur di mana anak bisa bebas berekspesi. Bermain, merupakan aktivitas yang dibutuhkan anak yang memungkinkan anak untuk mencurahkan idenya, memungkinkan anak mengembangkan kemampuan social, motorik dan emosinya. Usia bermain adalah usia 2-5 tahun artinya pada usia ini anak butuh bermain. Kebutuhan ini secara berangsur akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Bila di usia balita anak tidak cukup bermain bisa jadi kebutuhan ini coba dipenuhi di fase perkembangan berikutnya. Sudah remaja dan bahkan dewasa masih suka bermain dan sulit serius. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bermain menjadi penting untuk mengembangkan potensi anak, termasuk kecerdasan. Terlalu banyak les justru akan mengekang potensi anak karena anak hanya menjadi pelaku, cenderung pasif dan kurang kreatif. Di sisi lain, anak juga merasa tertekan karena pola kegiatannya yang sudah ditetapkan.

Berkaitan dengan les tambahan, paradigma berpikir orang tua dan juga masyarakat yang sepertinya perlu ditinjau kembali. Les, hendaknya memang menjadi tambahan, bukan menu utama

Setiap kita yang sudah berstatus sebagai orang tua atau mereka yang berkecimpung di bidang pendidikan, perlu mencermati diri sendiri, apakah sudah tepat cara untuk memotivasi anak. Jika tidak tepat caranya, maksudnya memotivasi malah justru menciutkan mental anak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Post

About

Blogger news